Sahabat

Nama : Kholifah
Nim    : 12001054
Kelas  : 1B
Prodi  : Pendidikan Agama Islam
satu meja, namun, pada akhirnya menjadi teman yang setia, aku dan Novalia duduk dimeja paling depan (meja pertama)  meja kedua ditempati oleh Seli Bitri dan Thiara Amanda, yang awalnya hanya bincang-bincang biasa, hanya membahas tentang pelajaran,  akhirnya bercerita tentang kehidupan, aku yang merupakan anak rantau memang sangat butuh sekali peran seorang teman, untuk menjadi pengganti seorang saudara, yang bisa selalu menguatkan dan menasehati, merekalah sahabat rasa saudara, yang amat sangat luar biasa, aku mampu bangun dan bangkit dari keterpurukan karena mereka, mereka penghapus segala duka lara yang aku rasakan selama aku merantau, aku sendiri kala itu, tinggal bersama orang yang mengaggapku adalah bagiannya, namun, tak pernah kurasakan kehangatan dirumah itu, batinku tersiksa, hatiku terluka, dan otak sudah mulai meledak ledak karna tak sanggup menahan beban fikiran yang amat sangat banyak, orang-orang hanya bisa melihat tawaku yang setiap hari merekah, mereka tak pernah tau bahwa hatiku setiap detiknya meneteskan air mata. 
Dan saat itulah tempat keluh kesahku hanya mereka, sahabat yang takkan pernah kulupakan, aku berhutang budi jasa kepada mereka. 
Bagaimana aku bisa lupa pada mereka, Sebab merekalah yang melukis sejuta cinta dikehidupanku yang penuh duka, mereka selalu setia mendengarkan keluh kesah, dan cerita yang tak berfaedah dariku, namun, aku melihat ketulusan mereka menerima kondisi aku, meski aku hanya anak rantau dari pedesaan, mereka tak pernah membedakanku, tak pernah melihat aku sebelah mata, aku menganggap mereka sebagai anugerah terindah dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sebab merekalah yang mengantarkan aku sampai pada titik kebahagiaan saat ini.
Dukungan dan perhatian selalu kurasakan pada tiap detiknya dari mereka, bahkan ketika lulus dari sekolah menengah kala itu, aku memutuskan pulang kampung untuk membantu kedua orang tua, dan aku memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi, namun, lagi lagi karena merekalah aku sampai pada saat ini, mereka membujuk dan merayu aku, supaya aku bisa melanjutkan pendidikan ini, dan Seli Bitrilah sang penguat dan pendukung akan semua ini, dia peran utama yang mampu membuat aku luluh untuk bisa melanjutkan pendidikan ini, Thiara Amanda yang tak membolehkan aku untuk pulang kampung karena takut aku menikah di usia muda, hehehe, mereka luar biasa, dan Novalia Audina juga penyemangat dalam segala hal.
Ada cerita lucu saat kami kelas 12 kala itu, cerita indah yang tak bisa terlupa, hehehe.
Awalnya aku bercerita kepada mereke mengenai seseorang yang aku kagumi, dan saat aku memberitahu namanya, Seketika mereka tersentak dan terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak, hahahahaha, bukan tanpa sebab, karena kami ber empat mengagumi laki-laki yang sama, hahaha, laki-laki itu tampan nan tinggi, senyumannya tak pernah bosan untuk dipandang, dia murah senyum, bahkan pernah aku pura-pura ke toilet hanya untuk melihat dia, kelas kami bersebelahan, setiap hari aku selalu melihatnya, hehehe, namanya juga manusia, pasti memiliki ketertarikan pada lawan jenis, namun, saat itu aku dan sahabatku hanya sebatas mengagumi, tanpa ingin memiliki.
Persahabatan pasti ada suka dan duka, kami tak pernah bertengkar, namun, pernah tak saling sapa, hehehe, bocah kan emang seperti itu. Itu sifatku, sifat buruk yang aku miliki, ketika aku memiliki masalah aku memilih diam tanpa kata, meski beribu kali mereka mengajak aku berbicara, namun, tetap saja aku memilih diam, disinilah aku melihat kebaikan yang luar biasa dari mereka, sesalah apapun aku, mereka tak pernah berpaling apalagi membenciku, mereka sabar, sabar dalam menghadapi sikapku yang buruk, aku selalu melampiaskan permasalahanku kepada mereka, cinta, kasih sayang merekalah yang sampai saat ini tak bisa kulupakan, meski kami sudah sama-sama jauh, dan memiliki kesibukan masing-masing, bahkan juga sudah bertemu teman baru,  namun, aku dan mereka masih tetap berteman baik, berkomunikasi, dan jika ada waktu kosong menyempatkan untuk bertemu dan melepas rindu, mereka bagian penting dalam hidupku. 
Semoga kelak aku dan ketiga sahabatku bisa terus bersama-sama hingga ke jannah, aku berharap selalu seperti itu, semoga aku bisa bersama mereka didunia dan di akhirat kelak, karena aku mencintai dan menyayangi mereka, sama seperti aku mencintai dan menyayangi saudara kandungku, tanpa terkecuali.
Semoga Allah Swt. Mengabulkan doa yang selalu kupanjatkan, semoga salah satu dari kami bisa membawa persahabatan ini sampai kelak di akhirat. 

Komentar